Salah satu kontroversi besar dalam perkembangan sains modern adalah Teori Evolusi. Kesan yang umum muncul adalah Teori Evolusi mengimplikasikan ketiadaan Tuhan. Pada gilirannya ini mengantarkan pada konflik panjang antara science dengan nilai-nilai religi.
Hal tersebut terjadi karena Teori Evolusi pada umumnya dijelaskan dengan kerangka materialistis berdasar konsep “survival of the fittest” dalam sebuah “proyek besar kehidupan yang penuh kebetulan”.
Perlu diperjelas bahwa survival of the fittest tidak bisa disamakan dengan Darwinisme sosial yg menyamakan evolusi hukum rimba ‘might is right’. Sedangkan ‘penuh kebetulan’ tersebut juga bukan berarti ’100% kebetulan’.
Di lain pihak, konsep kejadian alam semesta yang berketuhanan dijelaskan sebagai “penciptaan yang telah Tuhan rampungkan dalam selang waktu tertentu di masa lalu”. Sejauh ini kita dapat melihat kerangka materialistis evolusi tampak kesulitan untuk menjelaskan bagaimana secara teknis proses evolusi itu persisnya berlangsung. Bagaimana lautan sup protein kemudian bisa melahirkan oraganisme yang hidup dan berkembang biak. Bagaimana makhluk hidup berkembang dari sekadar ber sel satu hingga menjadi organisme yang semakin kompleks. Bagaimana bisa terjadi jenis kelamin jantan dan betina ataupun hermaprodit.
Sebenarnya pengamatan saya tidak ada masalah pada penjelasan teknis berlangsungnya evolusi. Namun memang belum ada jawaban yang memuaskan mengenai abiogenesis (munculnya kehidupan untuk pertama kali).
Sementara konsep “kreasi yang sudah final” juga kesulitan untuk menjelaskan sekian banyak bukti-bukti alamiah yang mengindikasikan bahwa memang telah terjadi perkembangan evolutif dalam perjalanan alam semesta ini, termasuk kehidupan yang berlangsung di dalamnya.
Dengan demikian, bila dihubungkan dengan polemik seputar Teori Evolusi, secara sederhana kita dapat merumuskan bahwa alam raya beserta segenap isinya berkembang secara evolutif dengan mekanisme tertentu di mana suatu “kekuatan cerdas” , yaitu Tuhan, terlibat di dalamnya. Dalam bentuk lain dapat kita katakan bahwa alam semesta beserta segenap isinya ini adalah suatu “proses kreasi yang berkelanjutan”. Singkat cerita, konsep tentang ‘kreasi berkelanjutan oleh Tuhan’ bisa menjadi alternatif penjelasan terhadap pertanyaan ‘bagaimana evolusi terjadi?’ ( yang membingungkan sekian banyak scientist) dan terhadap penemuan sekian banyak bukti tentang proses evolusi kehidupan (yang membingungkan para ‘agamawan’)
Inilah yang mulai muncul di antara kedua kutub (literalist creationist vs atheistic–materialistic evolutionist). Dari kubu kreasionis muncul gerakan Intelligent Design yang bisa menerima mikro-evolusi ataupun spesiasi (bahkan beberapa di antaranya menerima common descent antara manusia dan kera. misalnya Michael Behe). Sedangkan di antara evolusionis muncul kecenderungan theistic evolution yang tidak melupakan keberadaan Tuhan di sela-sela proses evolusi.
Namun sesungguhnya, Konsep semacam itu dapat dilihat tidak hanya sebagai penjelasan kosmologis tentang perkembangan alam raya, lebih jauh lagi ini merupakan sebuah alternatif pijakan dalam memahami dan menyikapi perkembangan peradaban, termasuk perkembangan sains dan teknologi. Untuk memperjelas pijakan itu ada pertanyaan yang harus dijawab: Apa peran yang harus dimainkan manusia dalam kehidupan ini? Dalam alam raya yang terus berkembang & Tuhan Yang MahaTerlibat…
Dalam berkembangnya alam dan menciptanya Tuhan, manusia hadir untuk turut berbuat. Maka apa yang dilakukan manusia lewat sains-Teknologi dan peradaban yang dicipta dan dikelolanya adalah bagian dari misi yang Tuhan berikan. Tentu saja manusia harus dengan sungguh-sungguh memperhatikan bagaimana koridor yang Tuhan berikan untuk melakukan itu semua. Manusia tidak boleh lalai bahwa proses kreasi yang dilakukannya adalah untuk kebaikan kemanusiaan itu sendiri bukan malah sebaliknya….